2012
12.05

 

SKR-FP-Sosek -2012-122 Imaniar Ilmi Pariasa 0810440083 Analisis Strategi wisata petik apel kulompok tani makmur abadi desa tulungrejo kecamatam bumiaji kota batu Agribisnis Dr Ir Syafrial MS Nur Baladina SP MP
2012
12.05

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MENUJU WORLD CLASS UNIVERSITY

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MENUJU WORLD CLASS UNIVERSITY

August 3rd, 2012

Semenjak Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan disahkan, Universitas di Indonesia mulai berupaya untuk mencapai standart World Class University. Akan tetapi, banyak kalangan akademis di perguruan tinggi yang salah mengartikan mengenai pengertian World Class University. Ketika suatu universitas menyatakan dirinya adalah World Class University, maka universitas tersebut harus mendapatkan akreditasi diri di Badan Akreditasi Internasional dan masuk dalam Pemeringkatan Internasional seperti ARWU, QS star, dan Webometrics. Mendiknas Bambang Sudibyo (kabinet2004-2009) menyatakan “Jika suatu Universitas memiliki 150 program studi, apabila lebih dari 40% program studi sudah berkelas internasional, maka perguruan tinggi itu layak disebut World Class University. (Republika, 09/04/08)

Sebelum mendeklarasikan diri sebagai World class university,  Universitas Brawijaya telah mendapatkan akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional dan beberapa fakultas di UB sudah mengupayakan akreditasi internasional di Badan Akreditasi Internasional. Dalam penilaian Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi, sebagian besar fakultas di UB yang di akreditasi mendapat nilai A. Di kancah internasional, UB mendapatkan urutan ke 250 besar di Asia versi QS Star. Sebagai sivitas akademika UB, kita harus bangga dengan prestasi yang diraih karena dengan usia yang bisa dikategorikan muda (kurang dari 50 tahun) Universitas Brawijaya mampu bersaing di kancah internasional. Tetapi kita tidak boleh berpuas  diri karena masih banyak sekali kriteria yang harus dipenuhi untuk menjadi World Class University yang sesungguhnya.

Untuk mewujudkan World Class University dalam waktu yang singkat tidaklah mudah. Sebagai sivitas akademika Universitas Brawijaya, kita bisa berperan aktif dalam upaya mewujudkan World Class University dengan mengukir prestasi di kancah internasional serta memperbanyak karya tulis dan berbagi pengetahuan melalui media komunikasi yang berbasis internet  misalnya blog atau website untuk memperkenalkan universitas kita di kancah Internasional sehingga cita-cita menjadi Universitas yang berkelas internasional bisa tercapai. Jadi, apa yang telah Anda lakukan sebagai sivitas akademika UB dalam mendukung program Universitas Brawijaya menuju World Class University.

 

  • bagaimana cara mewujudkannya ? dengan di kembangkannya SDM di UB agar semuanya bisa melayani dengan baik dengan 3 S ( Senyum -Santun – Sabar)
2012
12.05

Jurnal ” From Farm to Consumer – Linking Crop Physiology and Production with Buyer-oriented Quality. I. Vegetables. ”

From Farm to Consumer – Linking Crop Physiology and Production
with Buyer-oriented Quality. I. Vegetables.

Klik : from farm to consumer linking crop physiology and production with buyer oriented quality i Vegatables 
M.D. Kleinhenz1, J.C. Scheerens1, D.M. Francis1, T.J.K. Radovich1, D.G. French2, A.
Gazula1, A. Wszelaki1, A. Sanchez-Vela1, A.A.C. McIntyre1, J. Delwiche3, P. Ling4,
K. Amisi1, and D.J. Doohan1 1 Dept. of Horticulture and Crop Science, The Ohio State University, Ohio Agricultural
Research and Development Center, Wooster, Ohio, USA 44691-4096 2 formerly, College of Wooster, Wooster, Ohio, USA 44691. Currently, Dept. of
Agricultural Education, Purdue University, West Lafayette, Indiana, USA 47907 3 Dept. of Food Science and Technology, The Ohio State University, Columbus, Ohio,
USA 43210-1086 4 Dept. of Food, Agricultural and Biological Engineering, The Ohio State University,
Ohio Agricultural Research and Development Center, Wooster, Ohio, USA 44691-4096
E-mail: kleinhenz.1@osu.edu
Keywords: anthocyanin, antioxidant, chlorophyll, cultivar, hedonic, irrigation, lycopene,
management, organic, planting date, sensory, stress, vegetables, yellow shoulder
disorder

2012
12.05

Jurnal ” Dynamics of Changes of Some Cherry Fruit Properties and Quality Attributes During the Growing Season ”

Dynamics of Changes of Some Cherry Fruit Properties and Quality
Attributes During the Growing Season
P. Konopacki, D. Konopacka and P. Wawrzyczak
Research Institute of Pomology and Floriculture, Skierniewice, Poland
Keywords: sour cherry, modelling, distribution, harvest date, quality attributes

Klik : dynamics of changes of some cherry fruit properties and quality attributes during the growing season

2012
12.05

PETUNJUK PRAKTIS BUDIDAYA ULAT SUTERA

http://www.dephut.go.id/INFORMASI/PROPINSI/SULSEL/sulsel_2.html

PETUNJUK PRAKTIS BUDIDAYA ULAT SUTERA

  1. PENDAHULUAN

Persuteraan Alam sudah cukup lama dikenal dan dibudidayakan oleh penduduk Indonesia. Mengingat sifat dan menfaatnya, maka Pemerintah melalui Departemen Kehutanan berupaya membina dan mengembangkan kegiatan persuteraan alam tersebut.

Budidaya ulat sutera dimaksudkan untuk menghasilkan benang sutera sebagai bahan baku pertekstilan. Untuk melaksanakan pemeliharaan ulat sutera, terlebih dahulu dilakukan penanaman murbei, yang merupakan satu-satunya makanan (pakan) ulat sutera, Bombyx mori L.

Manfaat kegiatan persuteraan alam sebagai berikut :

    • Mudah dilaksanakan dan memberikan hasil dalam waktu yang relatif singkat;
    • Memberikan tambahan pendapatan kepada masyarakat khusunya di pedesaan;
    • Memberikan lapangan kerja bagi masyarakat sekitarnya;
    • Mendukung kegiatan reboisasi dan penghijauan.

Inkubasi telur ulat sutera

Guna mendukung pengembangan kegiatan persuteraan alam, maka tulisan ini ditujukan sebagai petunjuk praktis budidaya ulat sutera.

  • PERSIAPAN PEMELIHARAAN ULAT SUTERA

Sebelum kegiatan pemeliharaan ulat sutera dimulai, beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti : tersedianya daun murbei sebagai pakan ulat sutera, ruang dan peralatan pemeliharaan serta pemesanan bibit/telur ulat sutera.

  • Penyediaan Daun Murbei :
          • Daun murbei untuk ulat kecil berumur pangkas $ 1 bulan dan untuk ulat besar berumur pangkas 2-3 bulan;
          • Tanaman murbei yang baru ditanam, dapat dipanen setelah berumur 9 bulan;
          • Untuk pemeliharaan 1 boks ulat sutera, dibutuhkan 400-500 kg daun murbei tanpa cabang atau 1.000 – 1.200 kg daun murbei dengan cabang;
          • Daun murbei jenis unggul yang baik untuk ulat sutera adalah : Morus alba, M. multicaulis, M. cathayana dan BNK-3 serta beberapa jenis lain yang sedang dalam pengujian oleh Balai Persuteraan Alam Sulawesi Selatan.

Daun murbei untuk pakan ulat sutera

 

  • Ruangan Peralatan.
          • Tempat pemeliharaan ulat kecil sebaiknya dipisahkan dari tempat pemeliharaan ulat besar;
          • Pemeliharaan ulat kecil dilaksanakan pada tempat khusus atau pada Unit Pemeliharaan Ulat Kecil (UPUK);
          • Ruang pemeliharaan harus mempunyai ventilasai dan jendela yang cukup:
          • Bahan-bahan dan peralatan yang perlu disiapkan adalah : Kapur tembok, kaporit/papsol, kotak/rak pemeliharaan, tempat daun, gunting stek, pisau, ember/baskom, jaring ulat, ayakan, kain penutup daun, hulu ayam, kerta alas, kerta minyak/parafin, lap tangan dan lain-lain;
          • Desinfeksi ruangan dan peralatan, dilakukan 2-3 hari sebelum pemeliharaan ulat sutera dimulai, menggunakan larutan kaporit 0,5% atau formalin (2-3%), disemprotkan secara merata;
          • Apabila tempat pemeliharaan ulat kecil berupa UPUK yang berlantai semen, maka setelah didesinfeksi dilakukan pencucian.
  • Pesanan Bibit.
          • Pesanan bibit disesuaikan dengan jumlah daun yang tersedia dan kapasitas ruangan serta peralatan pemeliharaan;
          • Bibit dipesan selambat-lambatnya 10 hari sebelum pemeliharaan ulat dimulai melalui petugas / penyuluh atau langsung kepada produsen telur;
          • Apabila bibit/telur telah diterima, lakukan penanganan telur (inkubasi) secara baik agar penetasannya seragam.

Caranya adalah sebagai berikut :

          • Sebarkan telur pada kotak penetasan dan tutup dengan kertas putih yang tipis;
          • Simpan pada tempat sejuk dan terhindari dari penyinaran matahari langsung, pada suhu ruangan 25° -28° C dengan kelembaban 75-85%;
          • Setelah terlihat bintik biru pada telur, bungkus dengan kain hitam selama $ 2 hari

  • PELAKSANAAN PEMELIHARAAN ULAT SUTERA

Kegiatan pemeliharaan ulat sutera meliputi pemeliharaan ulat kecil, pemeliharaan ulat besar serta mengokonkan ulat.

  • Pemeliharaan Ulat Kecil

Pemeliharaan ulat kecil didahului dengan kegiatan “Hakitate” yaitu pekerjaan penanganan ulat yang baru menetas disertai dengan pemberian makan pertama.

          • Ulat yang baru menetas didesinfeksi dengan bubuk campuran kapur dan kaporit (95:5), lalu diberi daun murbei yang muda dan segar yang dipotong kecil-kecil;
          • Pindahkan ulat ke sasag kemudian ditutup dengan kertas minyak atau parafin;
          • Pemberian makanan dilakukan 3 kali sehari yakni pada pagi, siang, dan sore hari;
          • Pada setiap instar ulat akan mengalami masa istirahat (tidur) dan pergantian kulit. Apabila sebagian besar ulat tidur ($ 90%), pemberian makan dihentikan dan ditaburi kapur. Pada saat ulat tidur, jendela/ventilasi dibuka agar udara mengalir;
          • Pada setiap akhir instar dilakukan penjarangan dan daya tampung tempat disesuaikan dengan perkembangan ulat;
          • Pembersihan tempat ulat dan pencegahan hama dan penyakit harus dilakukan secara teratur.

Pelaksanaanya sebagai berikut :

            • Pada instar I dan II, pembersihan dilakukan masing-masing 1 kali. Selama instar III dilakukan 1-2 kali yaitu setelah pemberian makan kedua dan menjelang tidur;
            • Penempatan rak/sasag agar tidak menempel pada dinding ruangan dan pada kaki rak dipasang kaleng berisi air, untuk mencegah gangguan semut;
            • Apabila lantai tidak ditembok, taburi kapur secara merata agar tidak lembab;
            • Desinfeksi tubuh ulat dilaksanakan setelah ulat bangun tidur, sebelum pemberian makan pertama.

Penyalur ulat kecil dari UPUK ke tempat pemeliharaan petani / kolong rumah atau Unit Pemeliharaan Ular Besar (UPUB), dilakukan ketika sedang tidur pada instar III. Perlakuan pada saat penyaluran ulat sebagai berikut :

            • Ulat dibungkus dengan menggulung kertas alas;
            • Kedua sisi kertas diikat dan diletakkan pada posisi berdiri agar ulat tidak tertekan;
            • penyaluran ulat sebaiknya dilaksanakan pada pagi atau sore hari.

Pemeliharaan ulat sutera

 

  • Pemeliharaan Ulat Besar.

Kondisi dan perlakuan terhadap ulat besar berbeda dengan ulat kecil. Ulat besar memerlukan kondisi ruangan yang sejuk. Suhu ruangan yang baik yaitu 24-26° C dengan kelembapan 70-75%.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan ulat besar adalah sebagai berikut :

          • Ulat besar memerlukan ruangan/tempat pemeliharaan yang lebih luas dibandingkan dengan ulat kecil;
          • Daun yang dipersiapkan untuk ulat besar, disimpan pada tempat yang bersih dan sejuk serta ditutup dengan kain basah;
          • Daun murbei yang diberikan pada ulat besar tidak lagi dipotong-potong melainkan secara utuh (bersama cabangnya).
          • Penempatan pakan diselang-selingi secara teratur antara bagian ujung dan pangkalnya;
          • Pemberian makanan pada ulat besar (instar IV dan V) dilakukan 3-4 kali sehari yaitu pada pagi, siang, sore dan malam hari;
          • Menjelang ulat tidur, pemberian makan dikurangi atau dihentikan. Pada saat ulat tidur ditaburi kapur secara merata;
          • Desinfeksi tubuh ulat dilakukan setiap pagi sebelum pemberian makan dengan menggunakan campuran kapur dan kaporit (90:10) ditaburi secara merata;
          • Pada instar IV, pembersihan tempat pemeliharaan dilakukan minimal 3 kali, yaitu pada hari ke-2 dan ke-3 serta menjelang ulat tidur;
          • Pada instar V, pembersihan tempat dilakukan setiap hari;
          • Seperti pada ulat kecil, rak/sasag ditempatkan tidak menempel pada dinding ruangan dan pada kaki rak dipasang kaleng yang berisi air.

No.

Suhu dan

Kelembaban

Umur

Ulat

( Hari )

Jumlah

Kebutuhan

Daun (kg)

Luas

Tempat

(M2)

Ket.

I

II

III

IV

V

 

26-28° C

80-90%

26-28° C

80-90%

26° C

80%

24-26° C

70-75%

24-26° C

70-75%

 

2 – 3

3 – 4

2 – 3

4 – 5

6 – 7

 

1,5

3,5

15

40-50

350-400

0,4 m2

1,6 m2

1,6 m2

3,2 m2

3,5 m2

5 m2

5 m2

14 m2

15-18 m2

 

Awal

Akhir

Awal

Akhir

Awal

Akhir

Awal

Akhir

Awal

 

          • Apabila lantai ruangan pemeliharaan tidak berlantai semen agar ditaburi kapur untuk menghindari kelembaban tinggi.
  • Mengokonkan Ulat.

Pada instar V hari ke-6 atau ke-7 ulat biasanya akan mulai mengokon. Pada suhu rendah ulat akan lebih lambat mengokon. Tanda-tanda ulat yang akan mengokon adalah sebagai berikut :

          • Nafsu makan berkurang atau berhenti makan sama sekali;
          • tubuh ulat menjadi bening kekuning-kuningan (transparan);
          • Ulat cenderung berjalan ke pinggir;
          • Dari mulut ulat keluar serat sutera.

Apabila tanda-tanda tersebut sudah terlihat, maka perlu di ambil tindakan sebagai berikut :

          • Kumpulkan ulat dan masukkan ke dalam alat pengokonan yang telah disiapkan dengan cara menaburkan secara merata.
          • Alat pengokonan yang baik digunakan adalah : rotari. Seri frame, pengokonan bambu dan mukade (terbuat dari daun kelapaatau jerami yang dipuntir membentuk sikat tabung).

      1. PANEN DAN PENANGANAN KOKON.

Panen dilakukan pada hari ke-5 atau ke-6 sejak ulat mulai membuat kokon. Sebelum panen, ulat yang tidak mengokon atau yang mati diambil lalu dibuang atau dibakar.

Selanjutnya dilakukan penanganan kokon yang meliputi kegiatan sebagai berikut :

        • Pembersihan kokon, yaitu menghilangkan kotoran dan serat-serat pada lapisan luar kokon;
        • Seleksi kokon, yaitu pemisahan kokon yang baik dan kokon yang cacat/jelek;
        • Pengeringan kokon, yaitu penanganan terhadap kokon untuk mematikan pupa serta mengurangi kadar air dan agar dapat disimpan dalam jangka waktu tertentu;
        • Penyimpanan kokon, dilakukan apabila kokon tidak langsung dipintal/dijual atau menunggu proses pemintalan.

Cara penyimpanan kokon adalah sebagai berikut :

 

        • Dimasukkan ke dalam kotak karton, kantong kain/kerta;
        • Ditempatkan pada ruangan yang kering atau tidak lembab;
        • Selama penyimpanan, sekali-sekali dijemur ulang di sinar matahari;
        • Lama penyimpanan kokon tergantung pada cara pengeringan, tingkat kekeringan dan tempat penyimpanan.
2012
12.05

Daftar Laporan magang kerja sosek tgl 5 Desember 2012

MK-SE-2012-14 Ayuda Werti 0910440034 5 Desember 2012 Penjadwalan proses produksi kopi robusta(Coffee Robusta L.) di PTPN XII(persero) kebun bangelan kabupaten malang jatim Wisnu Ari Gutama SP MMA
MK-SE-2012-15 Yuliani Widiningtyas 0910440220 5 Desember 2012 Penerapan gaya kepemimpinan pada CV Arjuna flora dusun junggo bumi aji kota batu Riyanti Isaskar SP MP
MK-SE-2012-16 Elisa Nurmawati 0910440066 5 Desember 2012 Perancangan dan pengelolaan sumber daya manusia pada PT Benih Citra Asia Kabupaten jember Prof Dr Ir Budi Setiawan MS
2012
12.05

Journal ” Perceptions of Supply Chain Management for Perishable Horticultural Crops: an Introduction ”

Perceptions of Supply Chain Management for Perishable Horticultural
Crops: an Introduction
Errol W. Hewett
Chair ISHS Quality and Postharvest Commission
Institute for Food, Nutrition and Human Health
Massey University, Albany Campus
Private Bag 102 904, North Shore Mail Centre
Auckland, New Zealand
Keywords: fruits and vegetables; supply chain; management; logistics; quality; kiwifruit;
apples; apricots; consumer satisfaction

Klik : an introduction perceptions of supley chain management for perishable hortikultural crops

2012
12.05

Skripsi ” Faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pengambilan keputusan kerja dan tingkat pendapatan karyawan tidak tetap pabrik gula

SKR-FP-Sosek -2012-121 Ethies Nugraha Prayojani 0810440064 Faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pengambilan keputusan kerja dan tingkat pendapatan karyawan tidak tetap pabrik gula Agribisnis Dr Ir Syafrial MS Dr Ir Suhartini MP
2012
12.05

Jurnal ” Prediction of Storage or Shelf Life for Cool Stored Fresh Produce Transported by Reefers ”

” Prediction of Storage or Shelf Life for Cool Stored Fresh Produce Transported by Reefers ”

Klik : prediction of stroge or shell life for coll stored fresh produce transported by reefers

Keywords: modelling, prediction, refrigerated container, real time
Abstract
A considerable proportion of the fresh produce (fruit, vegetables, flowers etc)
sold around the world is exported. While most of the export is successful, a
disturbingly high proportion of shipments encounter quality problems on arrival at
destination. New technologies have been developed for monitoring refrigerated
shipping containers (KlaxonIQA 2002), that makes it possible for actual storage
conditions during transport to be monitored in real time. This enables speedy
rectification of any problems and alerting to any quality problems on arrival.
Besides the considerable benefits that this technology achieves for all involved in the
shipping and fresh produce industry, it is possible to interface storage prediction
software and real time monitoring of storage conditions to provide a premium
service to the industry that can fine tune the quality delivered to market
requirements. Advantages of such a model are that decisions can be made before
shipment as to potential storage life remaining for a particular crop (e.g., apples
stored in CA prior to export). Then, if there is a problem for a particular voyage
length, the shipment can be cancelled or storage conditions adjusted to assure a
longer storage life. The development of a fully robust model to cover a wide range of
products, a wide range of pre-shipment conditions and a range of problems during
shipping will obviously take some time but the benefits will be considerable. Fitting a
wide range of models to data for over 30 crops suggests that the best choices are the
exponential and a modified quadratic model.

2012
12.05

Journal ” Quality in Systems: Product – Environment Interactions – Intelligent Systems ”

” Quality in Systems: Product – Environment Interactions – Intelligent Systems ”

Klik : quality in systems product environment interactions intelligent systems

INTRODUCTION
Quality is the resulting status of fresh products of all product handling. And there is
a lot of handling involved before fresh fruit or vegetable products are consumed. Transport
of fresh agricultural products is still increasing all over the world and to keep this economic
system working there is a continuous need for (simple and cheap) technological solutions
for maintaining quality. What the price of such an invention or innovation may be depends
on the particular product, its logistics and the added value for the buyers (retail and
consumers).
All relevant players in the chain from grower to retail must be aware that the way
they handle products have an impact on the quality (and safety) of the products. Simply
because of the fact that fruits and vegetables are living entities with a history, going back to
preharvest conditions, that determines how it reacts on storage and transport conditions.
Every single player in that chain must realize that there is a benefit for all the individual
players if products are handled with care and knowledge.
Intelligent systems can contribute significantly to maintain the quality and safety
but cannot guarantee it. Firstly, because technology is applied and used by humans and is
therefore dependent on human know-how (trained and skilled persons) as well as
technological robustness. Secondly, there is a discrepancy between maximizing trade
opportunities and the quality of fresh fruits and vegetables. Technological systems are used
to maximize profit: to maintain the quality as long as possible and sell the produce at an
economic advantageous moment. It is obvious that this moment is not always optimal in
respect to consumer quality.
A few examples will be given which illustrates how technological systems can
contribute to improved quality and safety of both fresh products.