2013
12.02

Skripsi ” Pengaruh Pemberian Biomassa Kelapa Sawit terhadap Biomassa dan Populasi Cacing Tanah Effects of Organic Matter Application on Biomass and Population of Earthworm. ”

SKR-FP-T- 2013-51 Wagiati Ningsih  0910480289 Pengaruh pemberian Biomasa kelapa sawit terhadap biomasa dan populasi cacing tanah  Ilmu Tanah 

Pengaruh Pemberian Biomassa Kelapa Sawit terhadap Biomassa dan Populasi Cacing Tanah

Effects of Organic Matter Application on Biomass and Population of Earthworm.

Wagiati Ningsih1), Chairul Anshari2), Kurniatun Hairiah2), Widianto2), Satyoso3)

1)PS Agroekoteknologi, Minat Manajemen Sumber Daya Lahan, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang;

2) Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang; 2) Dosen Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya Malang

3) PT Astra Agro Lestari Tbk, Kumai Kalimantan Tengah

ABSTRAK

Salah satu upaya penting untuk mempertahankan kelembaban tanah dan sekaligus menyediakan pakan bagi organisme tanah di perkebunan sawit adalah dengan mengembalikan bahan organik residu panen ke dalam tanah seperti janjang kosong (jankos) maupun campuran pangkasan pelepah dan daun sawit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh pemberian berbagai macam biomassa kelapa sawit terhadap populasi dan karakteristik cacing tanah (biomassa dan nisbah B/P) di perkebunan kelapa sawit dengan tekstur tanah lom berklei dan lom berpasir pada kedalaman yang berbeda. Percobaan ini dilaksanakan bulan Februari- Juni 2013, pada kebun kelapa sawit umur 7-8 tahun milik PT Astra Agro Lestari Tbk, Kumai Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Pengambilan contoh cacing dan contoh tanah dilakukan pada tanah bertekstur lom berklei (Blok AMR OA-29) dan lom berpasir (Blok AMR OA-40). Pengambilan contoh pada masing-masing blok dilakukan pada 4 zona yaitu di gawangan mati (GM)  dengan aplikasi biomassa sawit terus menerus, di zona antar pokok dengan aplikasi jankos (APJ) sebanyak 20 Mg ha-1 dan zona antar pokok tanpa aplikasi jankos (APNJ) sebagai kontrol serta di zona piringan (PI) dengan penambahan bahan organik hanya dari akar sawit. Pengambilan contoh cacing dilakukan pada tiga kedalaman yaitu di lapisan permukaan, 0-10 cm dan 10-20. Variabel cacing tanah yang diukur adalah populasi, biomassa dan nisbah biomasa/panjang (B/P). Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata total C-Organik tertinggi terdapat pada tanah lom berpasir (2,84%) dengan penambahan bahan organik pelepah dan daun, sedangkan rata-rata terendah pada tekstur tanah lom berklei dengan penambahan jankos (1,64%), pada perlakuan lainnya diperoleh total Corganik yang sama (rata-rata 2,17%). Jumlah populasi cacing tanah terbanyak pada kedalaman 0-10 cm (59 ekor m-2), sedang pada lapisan permukaan dan 10-20 cm hanya ditemui 2 ekor m-2. Biomassa terbesar ditemukan pada kedalaman 0-10 cm (156,4 mg ekor-1), sedang biomassa cacing terkecil 11,3 mg ekor-1 pada kedalaman 10-20 cm, dan di lapisan permukaan rata-rata 97,4 mg ekor-1. Penambahan jankos menghasilkan biomassa (211 mg ekor-1) dan nisbah B/P (45,8 mg cm-1) cacing tanah terbesar.

Kata kunci : penambahan biomassa kelapa sawit, populasi, biomassa, nisbah biomassa/panjang cacing tanah

ABSTRACT

One of the important efforts to maintain soil moisture and at the same time provide fodder for soil organisms is to return crop residue i.e. empty fruits bunches (know locally as ‘jankos’) or a mixture of palm leaves and rachis cuttings into the soil. The purpose of this research is to study the effect of application of various oil palm biomass on the population density and the characteristics of earthworms (biomass and ratio biomass/length of earthworm) in oil palm plantations with different soil texture (sandy loam and clay loam) and at different soil depts.This experiment was conducted in February until June 2013, on 7-8 years plot of oil palm plantations of PT Astra Agro Lestari Tbk, Kumai, Pangkalan Bun, Central Kalimanatan. Sampling of earthworm and soils were done on soil texture clay loam (block AMR OA-29) and sandy loam  (block AMR OA-40). Sampling of each block is performed in four zones, i.e. palm front stack zone (gawanagan mati = GM), in zone between two trunks with  application of 20 Mg ha-1 empty fruits bunch or EFB (locally known as jankos = APJ) and in zone between two trunks without EFB application (APNJ) as a control and as well as at a ring weeding (piringan or PI) zone around the trunk without any addition of organic matter accept from decay roots of oil palm. Earthworm sampling was done at three depths: on soil surface (organic layer), 0-10 cm and 10-20 cm. The measurement of earthworm i.e. population and the ratio of biomass to length. Results of the study show that routine addition of mix palm front and rachis (GM) on sandy loam soils at 0-10 cm depth produced the largest total soil organic C, average of 2.84%. The addition of a large amount of EFB at once resulted the lowest of total organic-C (1.64%). While in the ring weeding zone (although no application of biomass) provided a relatively high total organic C, average of 2.17%. The highest population density of earthworm was observed at 0-10 cm soil depth (59 indiv.m -2),  while while at soil surface and at a layer of 10-20 cm were found 2 indiv.m-2 only. The largest biomass of earthworm are found at layer of 0-10 cm (156.4 mg /indiv.), and the smallest worm biomass were 11.3 mg/indiv. found at a depth of 10-20 cm, while in the soil surface the average is 97.4 mg/indiv. Application of EFB to the soil resulted a higher biomass (211 mg ekor-1) and ratio of biomass/length (B/P) of earthworm (45.8 mg cm-1).

 

Key words: organic matter application, populations of eartworm, biomass of eartworm and ratio of biomass/length (B/P) of earthworm

2013
12.02

Skripsi ” Pengaruh Residu Biochar terhadap perbaikan sifat fisika tanah , kandungan bahan organik tanah dan pertumbuhan tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) varietas 864 pada typic hapludalf di jatikerto ”

SKR-FP-T- 2013-52 Ilfa Ikromi Munadziroh 0910480087 Pengaruh Residu Biochar terhadap perbaikan  sifat fisika tanah , kandungan bahan organik tanah dan pertumbuhan tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) varietas  864 pada typic hapludalf  di jatikerto Ilmu Tanah Prof Ir Wani  Hadi  Utomo PhD

 

 

Ilfa Ikromi Munadziroh. 0910480087. Pengaruh Residu Biochar terhadap Perbaikan Sifat Fisik Tanah, Kandungan Bahan Organik Tanah dan Pertumbuhan Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.) Varietas 864 pada Typic Hapludalf di Jatikerto. Dibawah bimbingan Prof. Ir. Wani Hadi Utomo, Ph.D dan Kurniawan Sigit Wicaksono, SP.,M.Sc.

ABSTRAK

Sugar cane cultivation 864 varieties on the ground can cause the drain Jatikerto Alfisols nutrient soil. This is caused by the fertilizer plant sugar cane needs quite a lot. This resulted in decreased nutrient drain physical properties of soil and organic matter content of soil affect plant growth so that sugar cane varieties. Biochar is oganic matter with high carbon and can be produced from biomass crops including sugar cane. The purpose of this study was to determine and compare the influence of residual biochar to soil physical properties improvement and soil organic matter content of Typic Hapludalfs sugarcane varieties plant growth as well as 864 during the vegetative and vegetative optimally with other organic fertilizers. This study is an experiment carried out at the Experimental Faculty of agriculture Jatikerto, Malang and in the laboratory of Soil physics and chemistry, Faculty of agriculture, University of Brawijaya in February up to July 2013. Studies using Random Design Group (RAK) with 6 treatments namely, control (P1), residues of NPK (P2), compost blotong residue (dose 30 t ha-1) (P3), wilk residue (dose 30 t ha), (P4 )biochar residues, bagas (dose of 30 t ha-1) (P5), and charcoal residues sugar factory without pyrolysis (a dose of 30 t ha-1) (P6) and three replicates The observation parameters include heavy content, specific gravity, total porosity, soil organic matter, high, the number of chicks and the average circumference of the stem of the plant. The results showed that biochar residues treatment bagas 30 t ha-1 was able to increase the value of the aggregate stability of 1.01 mm and the value soil organic matter from 1.12% to 2.34% compared to other organic fertilizer treatment. Biochar residues also support the growth of the sugar cane plant varieties 864 during vegetative

2013
12.02

Skripsi ” Pengaruh pemberian pupuk kalium (KN03) terhadap infeksi Tobacco mosaik Virus (TMV) pada beberapa varietas tembakau virginia (Nicotiana tabacum L.) ”

SKR-FP-HPT-2013-56 Anna Sartika Hutapea  0910480191  Pengaruh pemberian pupuk kalium (KN03) terhadap infeksi Tobacco mosaik Virus (TMV) pada beberapa varietas tembakau virginia (Nicotiana tabacum L.) 

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK KALIUM (KNO3) TERHADAP INFEKSI Tobacco mosaik virus (TMV) PADA BEBERAPA VARIETAS TEMBAKAU VIRGINIA (Nicotiana tabacum L.)

Anna Sartika Hutapea, Tutung Hadiastono, Mintarto Martosudiro

1Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya

Jl Veteran Malang 65145

2Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Jl Veteran Malang 65145

ABSTRAK

     Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk K (KNO3) terhadap serangan TMV, pertumbuhan dan produksi pada tiga varietas tembakau. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca dan Laboratorium Penyakit Tumbuhan Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya. Pelaksanaan penelitian pada bulan Februari sampai Agustus 2013. Metode penelitian pada percobaan ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak lengkap (RAL) yang disusun secara faktorial dengan 2 faktor dan diulang 3 kali. Faktor pertama adalah 3 varietas tembakau Virginia (PVH 09, NC 297, dan Coker 176) dan faktor kedua adalah pemberian 4 taraf dosis pupuk KNO3 sehingga diperoleh 12 kombinasi perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian berbagai dosis K (KNO3) pada tiga varietas tembakau Virginia tidak mempengaruhi intensitas serangan  TMV. Perbedaan varietas berpengaruh terhadap parameter jumlah daun sedangkan pemberian berbagai dosis K (KNO3) mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman tembakau pada parameter bobot kering daun. Terdapat interaksi beberapa varietas dengan dosis pupuk K (KNO3) pada parameter bobot kering daun. Pemberian dosis 100 kg/ha K (KNO3) pada varietas NC 297 dapat meningkatkan bobot kering daun sebesar 52,33 g.

Kata kunci: Kalium (KNO3), Varietas tembakau Virginia, Tobacco mosaic virus

ABSTRACT

Effects of K (KNO3) fertilizer on Tobacco Mosaic Virus (TMV) infection, growth and production of three varieties of Virginia tobacco was conducted at green house and laboratory of Plant Pathology, Department of Plant Pest and Disease, Faculty of Agriculture, University of Brawijaya since February until  August 2013. The research was carried out using a complette Randomized Design (RAL) and arranged in a factorial with two factors and repeated in three times. The first factor were 3 varieties of Virginia tobacco i.e. PVH 09, NC 297, and Coker 176 and the second factor were  four  doses level of K . The results showed that four doses level of Knot influenced the disease intensity. The number of tobacco leaves parameter was not affected among three varieties but the K levels of doses affected the plant growth and production especially on the dry weight of leaves. There was significant interaction effect between three varieties and K  doses level  on the dry weight of tobacco leaves. The NC 297 tobacco was treated with 100 kg/ha dose of K caused 52,33 g dry weight of leaves higher than plant without K (control).

Keyword: Potassium (KNO3), Varieties of Virginia tobacco, Tobacco mosaic virus

2013
12.02

Skripsi ” Pengaruh pemberian air dan pupuk kandang sapi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis (Zea mays Saccharata Sturt L.) ”

SKR-FP-BP-2013-169 Eriosthafilla Wayah W P M 0910480057 Pengaruh pemberian air dan pupuk kandang sapi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis (Zea mays Saccharata Sturt L.)

 

Eriosthafilla W. W. P. M. 0910480057. Pengaruh Pemberian Air dan Pupuk Kandang Sapi terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt L.). Di bawah bimbingan Dr. Ir. Roedy Soelistyono, MS sebagai Pembimbing Utama dan Prof. Dr. Ir. Sudiarso, MS sebagai Pembimbing Pendamping.

            Jagung manis (Zea mays saccharata Sturt L.) ialah komoditi sayuran berupa tongkol yang dikonsumsi dalam keadaan masih muda, agar kandungan gulanya tidak menurun. Produksi jagung manis di Indonesia tergolong masih rendah yaitu rata – rata 26,5 t ha-1 (BPS, 2013). Permintaan akan jagung manis dari tahun ke tahun meningkat drastis, terutama untuk kota – kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya yang mencapai 3 – 8 t hari-1 dengan tingkat perkembangan permintaan sekitar 20 – 30% per tahun (Ichwan, 2007). Seiring dengan meningkatnya permintaan jagung manis, maka produksi jagung manis juga harus ditingkatkan. Namun, kendalanya ialah sebagian besar lahan penanaman jagung di Indonesia berupa lahan kering. Masalah utama penanaman jagung di lahan kering adalah kebutuhan air sepenuhnya tergantung pada curah hujan, bervariasinya kesuburan lahan dan adanya erosi yang mengakibatkan penurunan kesuburan lahan. Selain itu masalah lain di lahan kering adalah pH dan kandungan bahan organik yang rendah (Aria, 2009). Tujuan penelitian antara lain: (1) untuk mengetahui pengaruh pemberian air dan pupuk kandang sapi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis; (2) untuk mengetahui kebutuhan air tanaman jagung manis untuk pertumbuhan dan hasil yang optimal dan (3) untuk mengetahui kebutuhan pupuk kandang sapi bagi pertumbuhan jagung manis. Hipotesis penelitian adalah (1) terdapat interaksi antara pemberian air 100% dan pupuk kandang sapi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis; (2) pemberian pupuk kandang sapi sebesar 49 t ha-1 berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil jagung manis dan (3) Pemberian air 100% kapasitas lapang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil jagung manis dibandingkan dengan pemberian air pada 50%, 75% dan 125% kapasitas lapang.

Penelitian telah dilaksanakan di rumah plastik di Desa Canggah, Kecamatan Sarirejo, Kabupaten Lamongan pada bulan April – Juni 2013. Ketinggian tempat ± 50 m dpl, suhu udara 27 – 320C dengan curah hujan rata – rata 1.000 – 1.400 mm/tahun. Alat – alat yang digunakan dalam penelitian ini ialah cangkul, tugal, ember, oven, penggaris, timbangan analitik, cetok, leaf area meter (LAM), camera digital, gelas ukur, termometer, dan meteran. Bahan yang digunakan antara lain benih jagung manis varietas Talenta, pupuk kandang sapi, pupuk Urea (46% N), SP-36 (36% P2O5), KCl (60% K2O), polibag, pestisida, dan Furadan 3G. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari 2 faktor dan diulang sebanyak 3 kali. Faktor yang pertama adalah pemberian air, terdiri dari empat taraf, antara lain: (A1)  50% kapasitas lapang; (A2) 75% kapasitas lapang; (A3) 100% kapasitas lapang dan (A4) 125% kapasitas lapang. Faktor kedua adalah dosis pupuk kandang sapi yang terdiri dari dua taraf, antara lain: (B0) Tanpa pupuk kandang sapi dan (B1) Pupuk kandang sapi dengan dosis 339.10 g polibag-1. Pengamatan pertumbuhan dan hasil jagung manis dilakukan dengan mengamati 2 tanaman sampel untuk setiap kombinasi perlakuan. Pengamatan dilakukan secara destruktif dan non destruktif dengan interval pengamatan 14 hari sekali yang dimulai pada saat tanaman berumur 14 hst, 28 hst, 42 hst, 56 hst dan saat panen. Komponen pertumbuhan tanaman yang diamati meliputi tinggi tanaman (cm), luas dan indeks luas daun (cm2), bobot kering total tanaman (g tan-1). Sedangkan komponen hasil yang diamati adalah hasil panen (kg petak-1), bobot segar tongkol berkelobot (g tan-1), bobot segar tongkol tanpa kelobot (g tan-1), diameter tongkol (cm), panjang tongkol (cm) dan suhu mikro (0C). Data yang diperoleh dari hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (uji F) pada taraf 5% dan apabila berbeda nyata maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5% untuk mengetahui perbedaan di antara perlakuan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara pemberian air dan pupuk kandang sapi terhadap pertumbuhan dan hasil, kecuali hanya pada tinggi tanaman. Perlakuan pupuk kandang sapi sebesar 49 t ha-1 berpengaruh terhadap luas daun dengan peningkatan sebesar 12%, indeks luas daun sebesar 13%, bobot segar tanaman sebesar 5% dan 14% bobot segar tongkol berkelobot apabila dibandingkan dengan tanpa pupuk kandang sapi. Pemberian air berpengaruh terhadap luas daun dengan rata – rata sebesar 687,56 cm2 tan-1 pada taraf pemberian air 125% kapasitas lapang yang mengalami peningkatan sebesar 35%, 636,15 cm2 tan-1 pada taraf 75% kapasitas lapang dengan peningkatan sebesar 30% serta 19% pada pemberian air 50% kapasitas lapang. Perlakuan pemberian air berpengaruh terhadap bobot segar tanaman, dimana pemberian air 125% mengalami peningkatan sebesar 0,14% yaitu sebesar 381,22 g tan-1, serta menurunkan 7% pada taraf pemberian air 75%dan 11% pada taraf pemberian air 50% kapasitas lapang. Pemberian air berpengaruh terhadap bobot kering tanaman, dimana pada taraf 125% kapasitas lapang meningkatkan rata – rata bobot kering tanaman sebesar sebesar 24%. Pemberian air 75% kapasitas lapang menurunkan rata – rata 17% menjadi 9,35 g tan-1 dan 2% pada pemberian air 50% kapasitas lapang. Masing – masing dibandingkan dengan taraf 100% kapasitas lapang.

SUMMARY

Eriosthafilla W. W. P. M. 0910480057. Effect of Water Content and Cow Manure on the Growth and Yield of Sweet Corn (Zea mays saccharata Sturt L.). Supervisor by Dr. Ir. Roedy Soelistyono, MS., as a Major Supervisor and Prof. Dr. Ir. Sudiarso, MS. as an Assistant Supervisor.

Sweet corn (Zea mays saccharata Sturt L.) is vegetable commodity as cob that consumed fresh, that its sugar content do not decrease. Sweet corn production in Indonesia still low which is average 26,5 t ha -1 (BPS, 2013). Demand of sweet corn every year to increase, specifically for metropolises as Jakarta, Bandung and Surabaya what does reach 3 – 8 t every day with the level of demand 20 –  30% per year (Ichwan, 2007).  Along with increasing of demand, sweet corn production must be increased. But, its constraint is corn farm in Indonesia as dry farming. The main problem corn at dry farming is amount of water required depend with rain, its varies soil fertility and erosion is result soil fertility decrease (Adisarwanto and Widyastuti, 2002). Besides other problem at dry farming is pH and low organic matter content. The purposes research are: (1) to know the effect of water content and cow manure on the growth and yield of sweet corn and (2) to know the water need of sweet corn for optimal growth and yield. Research hypothesis are: (1) there is effect between water application and cow manure on the growth and yield of sweet corn; (2) application cow manure as 49 t ha -1  give one that optimal and (3) water application 100% field capacity give to result sweet corn one that optimal than water application on 50%, 75% and 125% field capacities.

This research was conducted at plastic houses in Canggah village, sarirejo’s district, lamongan’s regency. A high place ± 50 m dpl, air temperature 27 – 32 0C with raining average 1.000 1.400 mm / year from April to June 2013. Tools are utilized in this research are hoes, dibber, bail, oven, ruler, analytic scale, drill, leaf area meter (LAM), digital camera, glass measures, thermometer, and gauge. Meanwhile material that is utilized are varietas’s sweet corn seed Talenta, crib manure, Urea’s manure (46% N), SP – 36 (36% P2 O5), KCl (60% K2O), polibag, pesticide, and Furadan 3G. The research would used a randomized block design factorial, which consists of 2 factor treatments with 3 replications. First factor is water content, consisting of four levels, are: (A1)  50% field capacities; (A2) 75% field capacities; (A3) 100% field capacities and (A4) 125% field capacities. Second factor is dosed cow manure that consisting of two levels, are: (B0) Without cow manure and (B1) cow manure with dosed 49 t ha-1. Observation of Growth and result of sweet corn by observes 2 sample plant for each conduct combine. Observation was done by destructive and non destructive with observing interval 14 days once one are begun at the 14 hst, 28 hst, 42 hst, 56 hst and while harvests. Variable crop plant that observed are high plant (cm), leaf area (cm-2), total dry weight of the plant (g tan-1),  yield (t ha-1), cob fresh weights cornhusk (g tan-1), cob fresh weights without cornhusk (g tan-1), cob diameter (cm), cob length (cm), and micro temperature(0C). The data were tested by analysis of variance (F test) with a level of 5% and if there is a different than followed by Least Significant Difference test (LSD) at 5% level.

The results showed that there is no interaction between the water content and cow manure on growth and yield, but only on plant height. Treatment of cow manure at 49 t ha-1 give effect on leaf area with an increase of 12%, leaf area index 13%, plant fresh weight 5% and 14% fresh weight cornhusk then without cow manure. Water content affects the leaf area with average of 687,56 cm2 tan-1 at the level of 125% field capacity is increased 35%; 636,15 cm2 tan-1 at the level of 75% field capacity with an increase of 30% and 19% at level 50% field capacity. Water content treatment give effect on plant fresh weight ,where the water content 125% has increased by 0,14 % in the amount of 381,22 g tan-1, and decreased 7% at the level of the water content 75% and 11% at the 50% field capacity of water content. Water content give effect plant dry weight, where the level of 125% field capacity increase average plant dry weight by 24%. Water content 75% field capacity lowers average 17% to 9,35 g tan-1 and 2% at 50 % field capacity of the water content. Each as compared to the level of 100 % field capacity.

 

2013
12.02

Skripsi ” Pengaruh sistem olah tanah dan berbagai mulsa organik pada pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai (glycine max (L) Merr.) var .Grobogan ”

SKR-FP-BP-2013-168 Rizky Adie  Prasetyo 0610413011 Pengaruh sistem olah tanah dan berbagai mulsa organik pada pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai (glycine max (L) Merr.) var .Grobogan BP/Agronomi Prof Dr Ir Jody Moenandier Dipl Agr Sc

PENGARUH SISTEM OLAH TANAH DAN BERBAGAI MULSA ORGANIK PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KEDELAI (GLYCINE MAX (L.) MERR.) VAR. GROBOGAN 

THE EFFECT OF SOIL TILLAGE SYSTEM AND VARIOUS ORGANIC MULCH on GROWTH AND YIELD Of SOYBEAN (GLYCINE MAX (L.) MERR.) VAR. GROBOGAN 

Rizky Adie Prasetyo1, Agung Nugroho2, Jody Moenandir 

*) Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya Malang

Jln. Veteran, Malang 65145, Indonesia

Email:

ABSTRAK

Percobaan lapang bertujuan untuk mempelajari pengaruh olah tanah dan mulsa terhadap pertumbuhan dan hasil pada tanaman kedelai (Glycine max L.) var. Grobogan. Percobaan telah dilaksanakan di jatikerto pada ketinggian + 303 m dpl sejak Maret sampai Juni 2013. Perlakuan terdiri dari olah tanah dan mulsa. Olah tanah terdiri atas T1  = tanpa diolah, T2 = olah tanah minimal dan T3 = olah tanah maksimal. Terdapat 12 kombinasi, 3 ulangan dan menggunakan analisa faktorial. Hasil penelitian menunjukan kombinasi antara olah tanah maksimal dan mulsa jerami menunjukan hasil ton ha-1 tebaik sebesar 2,39 ton ha-1. Penjelasan dari hasil tersebut ialah olah tanah maksimal dapat menghasilkan pertumbuhan yang baik karena membentuk kondisi optimum bagi pertumbuhan tanaman. Sedangkan mulsa jerami dapat menekan pertumbuhan gulma, mempertahankan agregat tanah dari hantaman air hujan, memperkecil erosi permukaan tanah, mencegah penguapan air dan melindungi tanah dari terpaan sinar matahari.

Kata kunci: kedelai, olah tanah, mulsa, var. grobogan.

ABSTRACT

A field experiment to study the effect of soil tillage and mulch on soybean (Glycine max L.) var. Grobogan on growth and yield. The research has been conducted at jatikerto, + 303 m  above sea level since March upto june 2013. The treatment were of soil tillage and mulch. Soil tillage consist of T1  = no tillage, T2 = minimum tillage and T3 = maximum tillage. Mulch consist of M1 = no mulch, M2 = paitan mulch, M3 = husk mulch, M4 = straw mulch. There were 12 combination, 3 replicates and analyzed factorially. The result showed combination of maximum soil tillage system and straw mulch (M4T3) give best result 2,39 ton ha-1. The analysis of the result were of maximum soil tillage optimum condition on plant growth. Whereas straw mulch decreased weeds growth, preserve soil aggregate from rain fall, minimize soil surface erotion, inhibit evaporation and protect soil from sunlight.

Keywords: soybean, soil tillage, mulch, var. grobogan.

2013
12.02

Skripsi ” Studi pertumbuhan dan hasil tanaman apel manalagi (Malus Sylvestris Mill) yang di beri pupuk organik dan anorganik di bumiaji batu “

SKR-FP-BP-2013-167 Dita Hayu Adela 0810483029 Studi pertumbuhan dan hasil tanaman apel manalagi (Malus Sylvestris Mill) yang di beri pupuk organik dan anorganik di bumiaji batu BP/Agro tek Dr Ir Muji Santoso MS Sisca Fajriani SP MP

STUDI PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN APEL MANALAGI (Malus sylvestris MILL.) YANG DIBERI PUPUK ORGANIK DAN ANORGANIK DI BUMIAJI BATU

STUDY OF APPLE PLANT GROWTH AND YIELD (Malus sylvestris MILL.) WITH ORGANIC ANORGANIC FERTILIZER APPLICATION VARIETIES MANALAGI IN BUMIAJI, BATU

Dita Hayu Adela1*), Sisca Fajriani,Mudji Santoso

*) Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya

Jln. Veteran, Malang 65145, Jawa Timur, Indonesia

Email :

ABSTRAK

Produksi dan kualitas buah Apel Manalagi di wilayah Batu tergolong rendah yaitu 15 kg/pohon (Agusta, 2007). Salah satu faktor yang menjadi pembatas produktivitas apel di wilayah Batu adalah unsur hara. Dalam rangka meningkatkan efisiensi penyediaan unsur hara maka dilakukan kombinasi pemberian pupuk organik dan anorganik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari aplikasi bahan organik dan anorganik terhadap pertumbuhan tanaman apel varietas Manalagi pada fase vegetatif dan awal generatif. Penelitian dilaksanakan di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu pada Bulan Maret-Mei 2013. Penelitian ini menggunakan metode survei disertai observasi yang dilakukan pada petani. Pengamatan non destruktif meliputi jumlah daun, awal terbentuk bunga, jumlah bunga, jumlah bakal buah, jumlah bakal buah dari bunga atau fruit set. Pengamatan destruktif yang dilakukan yaitu luas daun (30 daun/pohon), diukur dengan menggunakan metode grafimetri. Hasil penelitian menunjukkan tanaman apel dengan aplikasi pupuk kandang dan bokhasi memiliki laju pertumbuhan dan tingkat produksi yang lebih tinggi dibanding tanaman apel dengan masukan anorganik. Tingkat produktivitas apel organik juga lebih tinggi dibanding apel anorganik dilihat dari jumlah bunga (725 pohon-1 ), jumlah putik (254 (35,03%) pohon-1)  dan  jumlah buah (fruit set) 164,8  pohon-1 dan diameter buah (4,27 cm).

Kata kunci : apel manalagi, pupuk organik, pupuk anorganik, produktivitas

ABSTRACT

Production and fruit quality in apple Manalagi Batu region is relatively low at 15 kg / tree (Agusta, 2007). One factor that becomes limiting productivity of apple in Batu region is a nutrient. In order to improve the efficiency of nutrient supply then do a combination of organic and inorganic fertilizers. This study aimed to determine the effect of application of organic and inorganic materials to the apple varieties Manalagi grown plants on vegetative and early generative phase. The experiment was conducted in Tulungrejo, Bumiaji, Batu from March to May 2013. This study uses a survey accompanied with observation conducted on farmers . Non-destructive observations include the number of leaves, early formed flowers, number of flower, number of ovaries and number of fruit set. Destructive observations made ​​is leaf area (30 leaves / tree), measured using grafimetri method. The results showed the apple crop with manure and bokhasi application have higher growth rates and production rates than apple plants with inorganic inputs. Produktivity levels of organic apple apple is also higher than inorganic seen from the amount of flower (725 tree1), the number of ovaries (254 (35.03%) tree1) and a number of fruit (fruit set) 164.8 tree1 as well as the diameter of  fruit set was 4,27 cm.

Keywords : manalagi apple, organic fertilizer, anorganic fertilizer, productivity