Archive

Archive for February, 2014

Skripsi ” PENGARUH JUMLAH DAN WAKTU PEMBERIAN AIR PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN TALAS (Colocasia esculenta (L.) Schott var. Antiquorum) THE EFFECT OF AMOUNT AND TIME OF IRRIGATION ON GROWTH AND YIELD OF TARO (Colocasia esculenta (L.) Schott var. Antiquorum “

February 26th, 2014 Comments off

PENGARUH JUMLAH DAN WAKTU PEMBERIAN AIR
PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN
TALAS (Colocasia esculenta (L.) Schott var. Antiquorum)

THE EFFECT OF AMOUNT AND TIME OF IRRIGATION
ON GROWTH AND YIELD OF
TARO (Colocasia esculenta (L.) Schott var. Antiquorum)

Agus Nurchaliq)*, Medha Baskara, Nur Edy Suminarti

)*Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya
Jl. Veteran, Malang 65145 Jawa Timur, Indonesia
E-mail: shugabst2@gmail.com

ABSTRAK

Semakin sempitnya luas lahan pertanian yang diikuti oleh semakin menigkatnya jumlah penduduk, mengakibatkan belum tercapainya suatu titik keseimbangan antara jumlah penyediaan bahan pangan dengan tingkat permintaannya. Sehubungan dengan permasalahan tersebut, maka satu di antara beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah melalui pemanfaatan sumber bahan pangan lain yang dapat berpotensi sebagai sumber karbohidrat, yaitu umbi-umbian. Umbi talas adalah satu diantara beberapa komoditas umbi-umbian yang dapat dijadikan sebagai sumber bahan pangan alternatif selain beras yang bersifat sehat dan aman. Tanaman talas hanya di tanam 1 kali dalam 1 tahun, yaitu hanya pada awal musim penghujan. Sehubungan dengan permasalahan tersebut dan dalam upaya untuk meningkatkan ketersediaan umbi talas, serta agar umbi talas tetap tersedia sepanjang musim, maka penelitian untuk mengetahui tingkat kebutuhan air pada tanaman talas perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari respon tanaman talas pada berbagai tingkatan jumlah dan waktu pemberian air serta untuk menentukan jumlah dan waktu pemberian air yang tepat pada tanaman talas. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2012 hingga Maret 2013 di green house Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian, Desa Bedali, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman talas yang diairi sebanyak 1500 mm per musim yang diberikan 1 hari sekali, menunjukkan hasil yang paling tinggi pada seluruh komponen pertumbuhan dan hasil.

Kata kunci: Talas, jumlah air, pemberian air, cekaman air
ABSTRACT

The decreasing availability of agriculture land is followed by the increasing number of population. It causes un balance point between the food supply and the demand level. Regarding with this problem, one solution that can be done is optimizing the other food sources which can be used as the source of carbohydrate such as tubers. Taro is one of the tuber commodities which can be used as the healthy and safe alternative food sources after rice. Taro can only grow once a year especially in the beginning of rainy season. Based on this problem and in order to improve the availability of taro as well as to make it available in every season, the research to know the necessity of water in taro is needed. This research is aimed to study the taro’s response to the various level of watering amount and time. It is also aimed to decide the proper amount and time of watering for taro. It was conducted in October 2012 to March 2013 in green house of Agricultural Extension College, Bedali Village, Lawang District , Malang. The research design was randomized block design (RBD). The result showed that taro which was watered about 1500 mm per season a day showed the highest result among all components of growth and yield.

Keywords : Taro, watering, water supply, water grasp

Skripsi ” Pengaruh pupuk organik dan pupuk anorganik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman buncis tegak (Phascolus vulgaris L.) “

February 26th, 2014 Comments off

 

SKR-fp-BP-2013-191

PENGARUH PUPUK ORGANIK DAN PUPUK ANORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BUNCIS TEGAK

 (Phaseolus vulgaris L.)

EFFECT OF ORGANIK FERTILIZER AND ANORGANIK FERTILIZER

ON THE GROWTH AND YIELD OF KIDNEY BEAN

(Phaseolus vulgaris L.)

Nur Winda Rachmadhani*), Koesriharti, Mudji Santoso

Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya

Jl. Veteran, Malang 65145 Jawa Timur, Indonesia

*)E-mail : 

ABSTRAK

 

Salah satu usaha yang dapat dilakukan agar diperoleh hasil panen tanaman buncis yang optimal ialah dengan mengusahakan agar tanaman mendapat unsur hara yang cukup. Penelitian ini bertujuan untuk mem-peroleh efisiensi pemakaian pupuk organik dan anorganik yang ditambahkan dengan biokultur guna mengoptimalkan partumbu-han dan hasil tanaman buncis tegak. Pene-litian dilaksanakan di Desa Sumberejo, Ke-camatan Batu, Kota Batu, pada bulan Mei – Juli 2013. Penelitian disusun menggunakan RAK. Perlakuan yang diberikan ialah: (P1) tanpa pupuk, (P2) biokultur, (P3) kompos ko-toran sapi 5 ton ha-1, (P4) kompos kotoran sapi 5 ton ha-1 + biokultur, (P5) kompos ko-toran sapi 10 ton ha-1, (P6) kompos kotoran sapi 10 ton ha-1 + biokultur, (P7) pupuk anorganik (50 kg N ha-1, 150 kg P2O5 ha-1 dan 50 kg K2O ha-1), (P8) pupuk anorganik (50 kg N ha-1, 150 kg P2O5 ha-1 dan 50 kg K2O ha-1) + biokultur, (P9) pupuk anorganik (100 kg N ha-1, 300 kg P2O5 ha-1 dan 100 kg K2O ha-1) dan (P10) pupuk anorganik (100 kg N ha-1, 300 kg P2O5 ha-1 dan 100 kg K2O ha-1) + biokultur. Hasil penelitian menunjuk-kan bahwa perlakuan pemberian pupuk an-organik berupa 100 kg N ha-1, 300 kg P2O5 ha-1 dan 100 kg K2O ha-1 (P9) menghasilkan bobot segar polong panen per hektar lebih tinggi daripada perlakuan lainnya, tetapi ti-dak berbeda nyata dengan pemberian pu-puk anorganik berupa 50 kg N ha-1, 150 kg P2O5 ha-1, 50 kg K2O ha-1 dan biokultur (P8) dan 100 kg N ha-1, 300 kg P2O5 ha-1, 100 kg K2O ha-1 dan biokultur (P10).

Kata kunci: biokultur, buncis, pupuk, hasil panen

 

ABSTRACT

 

One attempt that can be done to get high yields is by trying in order to the plant gets enough nutrients, by fertilization that can be added with bioculture. Research’s purpose is to obtain the efficiency of organic and an-organic fertilizers are added with bioculture to optimize plant growth and yield of kidney bean. Research was conducted in Sumberejo, Batu District, on May to July 2013. Research used RBD. Treatment that was given are: (P1) without fertilizer, (P2) bioculture, (P3) compost 5 tons ha-1, (P4) compost 5 tons ha- 1 + bioculture, (P5) com-post 10 tons ha-1, (P6) compost 10 tons ha-1 + bioculture, (P7) anorganic fertilizer (50 kg N ha-1, 150 kg P2O5 ha-1 and 50 kg K2O ha-1), (P8) anorganic fertilizer (50 kg N ha-1, 150 kg P2O5 ha-1 and 50 kg K2O ha-1) + bio-culture, (P9) anorganic fertilizer (100 kg N ha-1, 300 kg P2O5 ha-1 and 100 kg K2O ha-1) and (P10) anorganic fertilizer (100 kg N ha-1, 300 kg P2O5 ha-1 and 100 kg K2O ha-1) + bioculture. Results showed that anorganic fertilizer treatment of 100 kg N ha-1, 300 kg P2O5 ha-1 and 100 kg K2O ha-1 (P9) pro-duced the fresh weight of harvested pods per hectare higher than other treatments, but not significantly different with anorganic fertilizer treatment of 50 kg N ha-1, 150 kg P2O5 ha-1, 50 kg K2O ha-1 and bioculture ( P8 ) and 100 kg N ha-1 , 300 kg P2O5 ha-, 100 kg K2O ha–1 and bioculture (P10).

 

Keyword : bioculture, kidney bean, fertilizer, yield

 

 

Skripsi ” Analisis Ketersediaan Pangan Di Kabupaten Sidoarjo Analysis Of Food Availability In Sidoarjo Regency “

February 26th, 2014 Comments off
SKR-FP-Sosek -2013-355 Dipo Prayoga  105040101111058  Analisis ketersediaan pangan di kabupaten Sidoarjo 

 

Analisis Ketersediaan Pangan Di Kabupaten Sidoarjo

Analysis Of Food Availability In Sidoarjo Regency

Dipo Prayoga, Nuhfil Hanani, Fahriyah

Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Universitas Brawijaya

Jl. Veteran Malang

ABSTRACT

The purposes of this research are to know the level of food availability, sufficiency of energy and protein  based on standards Nasional Pangan dan Gizi WNPG X, and projection of food availability Sidoarjo Regency from 2013 until 2025. Theresults showed that the availability of food in Sidoarjo Regency are dominated by vegetable food sources. The availability of energy and protein in Sidoarjo Regency 2012 by 1400 kcal per capita/day and 50,59 grams per capita/day that not reach standard AKE and AKP recommendations by Widyakarya Nasional Pangan & Gizi (WNPG X). The result showed that food commodity green bean, fish and meat from 2013 until 2025 have a surplus of food. Deficit food happen to eggs, soybeans corn from 2013 until 2025 while rice ran a deficit of food in the 2019 until 2025.

Keywords: the availability of food, the balance of foodstuffs (NBM), forecasting food, Sidoarjo

ABSTRAK 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keadaan ketersediaan pangan, kecukupan energi dan protein berdasarkan standar Nasional Pangan dan Gizi WNPG X di Kabupaten Sidoarjo tahun 2012  serta keadaan ketersediaan pangan Kabupaten Sidoarjo hingga tahun 2025. Hasil penelitian menunjukan bahwa ketersediaan pangan di Kabupaten Sidoarjo didominasi oleh sumber pangan nabati. Nilai ketersediaan energi dan protein di Kabupaten Sidoarjo tahun 2012 sebesar 1400 kkal/kapita/hari  dan 50,59 gram/kapita/hari sehingga belum memenuhi standar AKG dan AKP rekomendasi yang dikeluarkan oleh Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) X. Hasil peramalan pangan menunjukan bahwa komoditas kacang hijau, ikan dan daging mulai tahun 2013 hingga 2025 mengalami surplus pangan. Defisit pangan terjadi pada telur, kedelai, jagung mulai tahun 2013 hingga 2025, sedangkan beras mengalami defisit pangan pada tahun 2019 hingga 2025.

 

Kata Kunci: Ketersediaan Pangan, Neraca Bahan Makanan (NBM), Peramalan Pangan, Kabupaten Sidoarjo

Skripsi ” Keragaman Genetik dan Heritabilitas Karakter Komponen Hasil pada Enam Populasi F2Buncis (Phaseolus vulgarisL.) Hasil Persilangan Varietas Introduksi dengan Varietas Lokal “

February 25th, 2014 Comments off

 

SKR-FP-BP-2013-189 Hajroon Jameela  0910480077 Keragaman genetik dan heritabilitas karakter komponen hasil pada enam populasi F2 , buncis(Phaseolus Vulgaris L.) hasil persilangan varietas introduksi dengan varietas lokal 

RINGKASAN

 

 

 

HAJROON JAMEELA. 0910480077. Keragaman Genetik dan Heritabilitas Karakter Komponen Hasil pada Enam Populasi F2Buncis (Phaseolus vulgarisL.) Hasil Persilangan Varietas Introduksi dengan Varietas Lokal. Di bawah bimbingan Dr. Ir. Andy Soegianto, CESA sebagai pembimbing utama dan Ir. Arifin Noor Sugiharto, M.Sc., Ph.D sebagai pembimbing pendamping.

 

Buncis banyak diminati oleh masyarakat karena mengandung berbagai zat yang dibutuhkan tubuh dan dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Namun, menurut Direktorat Jenderal Hortikultura (2012), produktivitas buncis di Indonesiapada tahun 2012 mengalami penurunan sebesar 0,52%, dari 10,44 ton ha-1 menjadi 10,38 ton ha-1. Pada tahun 2012, telah dilakukan persilangan buncis varietas introduksi dengan varietas lokal dengan tujuan untuk mendapatkan buncis yang memiliki produktivitas tinggi dengan warna polong ungu dan kuning. Setelah didapatkan populasi F1 dari persilangan tersebut, dilakukan selfing sehingga didapatkan populasi F2. Pada generasi F2, tanaman akan mengalami segregasi, sehingga akan menyebabkan keragaman. Keragaman genetik yang luas dan tingkat heritabilitas akan mempengaruhi keberhasilan seleksi. Pada penelitian ini dilakukan pendugaan nilai keragaman genetik dan heritabilitas beberapa karakter komponen hasil pada enam populasi F2 buncis hasil persilangan varietas introduksi dengan varietas lokal. Nilai tersebut akan digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan seleksi untuk peningkatan produktivitas tanaman buncis.

 

Penelitian dilaksanakan di Dusun Junwatu, Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu yang terletak pada ketinggian ± 650 m dpl dengan suhu udara minimum 18-24°C dan suhu udara maksimum 28-32°C, serta kelembaban udara75-98%, April hingga Juli 2013. Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain ialah cangkul, mulsa plastik hitam perak, alat pelubang mulsa, meteran, tugal, lanjaran, sprayer, label, alat tulis, kantung plastik, penggaris, jangka sorong, timbangan analitik, dan kamera. Bahan yang digunakan adalah enam populasi F2 buncis hasil persilangan varietas introduksi dengan varietas lokal serta lima populasi tetuanya.Populasi F2 hasil kombinasi persilangan yang diperoleh adalah: Cherokee Sun × Gogo Kuning, Cherokee Sun × Mantili, Cherokee Sun × Gilik Ijo, Purple Queen × Gogo Kuning, Purple Queen × Mantili, dan Purple Queen × Gilik Ijo. Dalam penelitian ini juga digunakan insektisida/ nematisida sistemik dengan bahan aktif karbofuran 3%, sekam bakar, NPK 16-16-16, serta insektisidadengan bahan aktif Beta siflutrin. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode single plant. Pelaksanaan penelitian meliputi persiapan lahan, pemasangan mulsa, penanaman, pemeliharaan, panen, dan pengamatan. Pengamatan dilakukan pada semua individu tanaman buncis pada masing-masing populasi terhadap karakter kualitatif (tipe pertumbuhan, warna daun, warna batang, warna standard bunga, dan warna polong) serta karakter kuantitatif (umur awal berbunga, umur awal panen, jumlah polong per tanaman, panjang polong, diameter polong, berat polong, dan berat polong per tanaman). Pendugaan nilai heritabilitas dilakukan dengan menggunakan perhitungan dengan ragam keturunan.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh karakter kualitatif yang diamati pada seluruh populasi F2 memiliki keragaman genetik sempit dengan nilai heritabilitas tinggi. Sebagian besar karakter kuantitatif yang diamati pada seluruh populasiF2 memiliki keragaman genetik luas, kecuali karakter panjang polong, diameter polong, dan berat polong. Nilai duga heritabilitas karakter kuantitatif yang diamati berbeda-beda. Umur awal berbunga memiliki nilai duga heritabilitas yang cenderung tinggi dan sedang, umur awal panen memiliki nilai duga heritabilitas tinggi pada semua populasi F2, panjang polong, diameter polong, dan berat polong memiliki nilai duga heritabilitas yang cenderung sedang dan rendah, sedangkan jumlah polong per tanamandan berat polong per tanaman memiliki nilai duga heritabilitas yang berbeda-beda pada masing-masing populasi F2.

 

Seleksi terhadap karakter umur awal panen akan efektif pada seluruh populasi F2. Karakter yang dapat dipertimbangkan untuk diseleksi pada populasi F2 Cherokee Sun × Gogo Kuning adalah umur awal panen, jumlah polong per tanaman, dan berat polong per tanaman. Karakter yang dapat dipertimbangkan untuk diseleksi pada populasi F2Cherokee Sun × Mantili dan Purple Queen × Gilik Ijo hanya umur awal panen.Karakter yang dapat dipertimbangkan untuk diseleksi pada populasi F2Cherokee Sun × Gilik Ijodan Purple Queen × Mantiliadalah umur awal berbunga, umur awal panen, jumlah polong per tanaman, dan berat polong per tanaman. Sedangkan karakter yang dapat dipertimbangkan untuk diseleksi populasi F2 Purple Queen × Gogo Kuning adalah umur awal berbunga dan umur awal panen.


 

 

SUMMARY

 

 

 

HAJROON JAMEELA. 0910480077. Genetic Variability and Heritability of Yield Component Characters in Six F2 Populations of Common Bean Derived from a Cross Between Introduced Varieties and Local Varieties. Supervised by Dr. Ir. Andy Soegianto, CESA and Ir. Arifin Noor Sugiharto, M.Sc., Ph.D.

 

Common bean is widely used by many people because it contains substances that human body needs and can cure various diseases.However, according to data from Direktorat Jendral Hortikultura (2012),national productivity of common bean decreased 0,52%, from 10,44 ton ha-1 to 10,38 ton ha-1. In 2012, a cross between introduced varieties and local varietiesof common bean was conducted in order to get the common bean with high productivity withpurple and yellow pods. An individual F1 plant from the cross was then self crossed to produced the F2 generation.In the F2 generation, plant will be segregating. Segregation causes variability in the F2 generation. High genetic variability and heritability level will affect the success of the selection. In this research, estimation of genetic variability and heritability value was conducted in six F2 populations of common bean derived from a cross between introduced varieties and local varieties. The genetic variability and heritability valuewould be used as a guideline in conducting selection to increase productivity of common bean.

 

This research was conducted in Dusun Junwatu, Junrejo Village, Junrejo District, Batu, located at an altitude of ± 650 m above sea level which the minimum temperature is 18-24°C, maximum temperature is 28-32°C, and relative humidity is 75-98%, from April to July 2013. The tools used in this research are hoe, black and silver plastic mulch, mulch hole puncher, measuring tape, plant hole maker, wooden stakes, sprayer, labels, stationery, plastic bags, ruler, caliper, analytical scale, and camera. The materials used are six F2 populations of common bean derived from a cross between introduced varieties and local varieties, as well as five parental populations. The F2 populations are: Cherokee Sun × Gogo Kuning, Cherokee Sun × Mantili, Cherokee Sun × Gilik Ijo, Purple Queen × Gogo Kuning, Purple Queen × Mantili, and Purple Queen × Gilik Ijo. This research also used insecticide/ nematicide with karbofuran 3%, husk ash, NPK 16-16-16, and insecticide with Beta siflutrin. The research was conducted using a single plant method. Implementation of the research includes land preparation, installation of mulch, planting, maintenance, harvesting, and observation. Observation were made on all individual plant in each population, include the qualitative characters (growth type, leaf color, stem color, standard flower color, and pod color) and the quantitative characters (flowering time, first harvesting time, pod number per plant, pod length, pod diameter, pod weight, and pod weight per plant). Estimation of heritability was done using calculation of offspring variance.

 

The result showed that all of qualitative characters had low genetic variability with high heritability value. Most of quantitative characters had high genetic variability value in all F2 populations except pod lenght, pod diameter, and pod weight. Heritability value of quantitative characters werevarious. Flowering time tended to havehigh and moderate heritability value in all F2populations, first harvesting time had high heritability value in all F2populations, and pod lenght, pod diameter, and pod weight tended to have moderate and low heritability value in all F2populations. While the pod number per plant and pod weight per plant had various heritability value in each F2populations.

Selection offirst harvesting timewould be effective on the whole F2populations. Characters that could be selected in  Cherokee Sun × Gogo Kuning population arefirst harvesting time, pod number per plant, and pod weight per plant. The only character that could be selected in Cherokee Sun × Mantili and Purple Queen × Gilik Ijo population isfirst harvesting time. Characters that could be selected in Cherokee Sun × Gilik Ijo and Purple Queen × Mantili population are flowering time, first harvesting time, pod number per plant, and pod weight per plant.While the characters that could be selected in Purple Queen × Gogo Kuning population are flowering time and first harvesting time.

Skripsi ” Pengaruh pemberian bioaktivator terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman merah(Allium ascolanium L.) “

February 25th, 2014 Comments off
SKR-FP-BP-2013-190 Aprilia Fitria Carora  0910480193 Pengaruh pemberian bioaktivator terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman merah(Allium ascolanium L.) 
 1024×768

PENGARUH PEMBERIANBIOAKTIVATOR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BAWANG MERAH(Allium ascolanium L.)

 

THE EFFECT OF APPLICATION BIOACTIVATOR ON THE GROWTH AND YIELD OF SHALLOT (Allium ascolanium L.)

 

Aprilia Fitri Carora*), Karuniawan Puji Wicaksono, Y.B Suwasono Heddy

 

*)Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya

Jln. Veteran, Malang 65145, Jawa Timur, Indonesia

*)Email : april.carora@gmail.com

 


ABSTRAK

 

Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran yang harganya sangat fluktuatif, disamping itu dalam budidaya tanaman dibutuhkan modal yang sangat tinggi dibandingkan dengan budidaya tanaman sayuran lainya. Meskipun demikian budidaya bawang merah tetap digandrungi oleh petani.Produktivitas bawang merah nasional masih rendah, sedangkan kebutuhan bawang merah secara nasional terus mengalami peningkatan, sehinggaperlu dilakukan optimalisasi dalam budidaya salah satunya adalah melalui pemupukan.Dengan pemanfaatan bioaktivator, efisiensi tinggi dapat diperoleh melalui peningkatan daya dukung tanah dan efisiensi pelepasan hara pupuk. Sehingga unsur hara yang di butuhkan tanaman bawang merah serta dapat mengurangi resiko pencemaran lingkungan.Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli – Oktober 2013, di Perumahan Oma Campus Kecamatan Dau , Kabupaten Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi, petak utama ialah frekuensi bioaktivator dan konsentrasi bioaktivator sebagai anak petak.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman bawang merah dengan penggunaan berbagai frekuensi dan konsentrasi bioaktivator berpengaruh terhadap vegetatif panjang tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, luas daun. Tidak terjadi interaksi akibat pemberian frekuensi dan konsentrasi bioaktivator pada parameter jumlah daun, indeks luas daun, bobot segar umbi, bobot kering umbi, bobot kering total tanaman kecuali pada panjang tanaman dan jumlah anakan.

Kata kunci :Allium ascolanium L., Bioaktivator , frekuensi, konsentrasi

 

ABSTRACT

 

The Onion is one commodity whose price fluctuates greatly vegetables, besides that in cultivated crops required capital is very high compared with other vegetable cultivation.Nevertheless the cultivation of onion fixed favorite by farmers.Productivity shallot is still low, to be optimization need cultivation of shallot. One way to increase the production is fertilizer. From the utilization of bioaktivator, high efficiency can be obtained through increased resources support the ground and efficiency of the release of hara fertilizer. So that element in need of shallot can reduce the risk of pollution on the environment. The research has done conducted in Julyto October 2013 located in subdistrict Dau, Malang.The method of research use Split Plot Design with 3 replication. Main plot factor is frequency of bioactifator and sub plot is concentration bioactivator. The result showed that a frequency of four times application of bioactivatoreffect onplants length, number of leaves, the number of tillering,  fresh weight, dry weight of bulbs, fresh weight of harvest  bulb, weights of plant dryby sun, weights of bulb dryby sun and harvest index. There is an interaction between frequency and concentration of bioactivator on plants length and the number of tilleringexcept on plant length and number of tillering.

 

Keywords: Allium ascolanium L., Bioactivator, frequency, concentration

Skripsi ” Respon pertumbuhan dan hasil tanaman ubi jalar (Ipomoea Batatas L.) pada beberapa macam dan waktu aplikasi bahan organik “

February 24th, 2014 Comments off

 

RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN UBI JALAR

(Ipomoea batatas L.) PADA BEBERAPA MACAM DAN WAKTU APLIKASI BAHAN ORGANIK

THE EFFECT OF KIND AND TIME APPLICATION OF ORGANIC MATTER ON GROWTH AND YIELD OF SWEET POTATOES (Ipomoea batatas L.)

Eko Susanto*), Ninuk Herlina, Nur Edy Suminarti

Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya

Jl. Veteran, Malang 65145 Jawa Timur, Indonesia

ABSTRAK

Pemanfaatan bahan organik merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk menghasilkan produk yang berkua-litas. Hal ini sangat terkait bahwa melalui aplikasi bahan organik, produk pertanian mempunyai rasa yang lebih manis, lebih ta-han lama, bebas dari residu kimia sehingga bersifat aman dan sehat untuk dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan waktu aplikasi berbagai macam bahan orga-nik yang paling tepat pada pertumbuhan dan hasil tanaman ubi jalar.Penelitian di-laksanakan di Desa Landungsari, Dau, Malang pada bulan April – September 2013.Bahan yang digunakan adalah bibit ubi jalar varietas lokal gunung kawi, pupuk kandang sapi, kompos azolla dan kompos sampah kota. Penelitian menggunakan rancangan petak terbagi dengan perlakuan macam ba-han organik sebagai petak utama (B) terdiri dari 3 macam yaitu: B1: Pupuk kandang sapi; B2: Kompos azolla; B3: Kompos sam-pah kota. Waktu aplikasi sebagai anak pe-tak (W) terdiri dari 3 waktu yaitu: W1: Ber-samaan tanam; W2: 15 hari sebelum tanam; W3: 30 hari sebelum tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu aplikasi 30 hari sebelum tanam memberikan hasil umbi pa-ling baik pada ketiga bahan organik yang digunakan,  yaitu sebesar 15,25 ton ha-1 un-tuk pupuk kandang sapi, 20,51 ton ha-1 untuk kompos azolla dan 28,03 ton ha-1 untuk kompos sampah kota.

Kata kunci: Diversifikasi pangan, ubi jalar, bahan organik, waktu aplikasi.

ABSTRACT 

Utilization of organic materials is one step that can be taken to produce a quality product. It is highly relevant that through the application of organic materials, agricultural products have a sweeter taste, more durable, free from chemical residues that are safe and healthy to eat. Research’s purpose is to determine the time of application of a wide range of organic materials most appropriate on the growth and yield of sweet potato. The research was doneon April to September 2013, in the Landungsari Village, Dau Distric, Malang Regency. The materials that used in this research are local varieties of sweet potato, cow manure, azolla compost and waste compost.  Experiment was arranged in split plot design with organic matter as the mainplot(B) consisting of B1: Cow manure; B2: Azolla compost; B3: Waste compost. Time application as a sub plot (W) consists of 3 hours which are: W1: Applied at the same time planting time, W2:15 days before planting, W3:30 days before planting. The results showed that the application time of 30 days before planting grass gives the best results on all the organic material used, namely the size of 15.25 tons ha-1 for cow manure, 20.51 ton ha-1 for azolla compost and 28.03 ton ha-1 for waste compost.

Keywords: Food diversification, sweet potato, organic matter, applications time.

SKR-FP-BP-2013-188 Eko Susanto  0910480053 Respon pertumbuhan  dan hasil tanaman ubi jalar (Ipomoea Batatas L.) pada beberapa macam dan waktu aplikasi bahan organik 

Workshop “Pengembangan Multimedia dalam mendukung optimalisasi Perpustakaan Digital “

February 10th, 2014 Comments off

” Pengembangan Multimedia dalam mendukung optimalisasi Perpustakaan Digital ”

Tanggal 29 Januari 2014

foto workshoop UB 2014-1

Categories: Umum Tags:

Skripsi ” Analisis Nilai Tambah dan strategi pengembangan agroindustri gula siwalan (studi kasus di desa Dalegan, kecamatan Panceng Kabupaten gresik ) ”

February 4th, 2014 Comments off
SKR-FP-Sosek -2013-354 Misbahus Salam 0910440139  Analisis Nilai Tambah dan strategi pengembangan agroindustri  gula siwalan (studi kasus di desa Dalegan, kecamatan Panceng Kabupaten gresik ) 
Categories: Agribisnis, Skripsi, Skripsi Agribisnis Tags: