Home > Abstrak, Agroekoteknologi, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Skripsi, Skripsi Budidaya Pertanian > Skripsi ” Keragaman Genetik dan Heritabilitas Karakter Komponen Hasil pada Enam Populasi F2Buncis (Phaseolus vulgarisL.) Hasil Persilangan Varietas Introduksi dengan Varietas Lokal “

Skripsi ” Keragaman Genetik dan Heritabilitas Karakter Komponen Hasil pada Enam Populasi F2Buncis (Phaseolus vulgarisL.) Hasil Persilangan Varietas Introduksi dengan Varietas Lokal “

February 25th, 2014

 

SKR-FP-BP-2013-189 Hajroon Jameela  0910480077 Keragaman genetik dan heritabilitas karakter komponen hasil pada enam populasi F2 , buncis(Phaseolus Vulgaris L.) hasil persilangan varietas introduksi dengan varietas lokal 

RINGKASAN

 

 

 

HAJROON JAMEELA. 0910480077. Keragaman Genetik dan Heritabilitas Karakter Komponen Hasil pada Enam Populasi F2Buncis (Phaseolus vulgarisL.) Hasil Persilangan Varietas Introduksi dengan Varietas Lokal. Di bawah bimbingan Dr. Ir. Andy Soegianto, CESA sebagai pembimbing utama dan Ir. Arifin Noor Sugiharto, M.Sc., Ph.D sebagai pembimbing pendamping.

 

Buncis banyak diminati oleh masyarakat karena mengandung berbagai zat yang dibutuhkan tubuh dan dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Namun, menurut Direktorat Jenderal Hortikultura (2012), produktivitas buncis di Indonesiapada tahun 2012 mengalami penurunan sebesar 0,52%, dari 10,44 ton ha-1 menjadi 10,38 ton ha-1. Pada tahun 2012, telah dilakukan persilangan buncis varietas introduksi dengan varietas lokal dengan tujuan untuk mendapatkan buncis yang memiliki produktivitas tinggi dengan warna polong ungu dan kuning. Setelah didapatkan populasi F1 dari persilangan tersebut, dilakukan selfing sehingga didapatkan populasi F2. Pada generasi F2, tanaman akan mengalami segregasi, sehingga akan menyebabkan keragaman. Keragaman genetik yang luas dan tingkat heritabilitas akan mempengaruhi keberhasilan seleksi. Pada penelitian ini dilakukan pendugaan nilai keragaman genetik dan heritabilitas beberapa karakter komponen hasil pada enam populasi F2 buncis hasil persilangan varietas introduksi dengan varietas lokal. Nilai tersebut akan digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan seleksi untuk peningkatan produktivitas tanaman buncis.

 

Penelitian dilaksanakan di Dusun Junwatu, Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu yang terletak pada ketinggian ± 650 m dpl dengan suhu udara minimum 18-24°C dan suhu udara maksimum 28-32°C, serta kelembaban udara75-98%, April hingga Juli 2013. Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain ialah cangkul, mulsa plastik hitam perak, alat pelubang mulsa, meteran, tugal, lanjaran, sprayer, label, alat tulis, kantung plastik, penggaris, jangka sorong, timbangan analitik, dan kamera. Bahan yang digunakan adalah enam populasi F2 buncis hasil persilangan varietas introduksi dengan varietas lokal serta lima populasi tetuanya.Populasi F2 hasil kombinasi persilangan yang diperoleh adalah: Cherokee Sun × Gogo Kuning, Cherokee Sun × Mantili, Cherokee Sun × Gilik Ijo, Purple Queen × Gogo Kuning, Purple Queen × Mantili, dan Purple Queen × Gilik Ijo. Dalam penelitian ini juga digunakan insektisida/ nematisida sistemik dengan bahan aktif karbofuran 3%, sekam bakar, NPK 16-16-16, serta insektisidadengan bahan aktif Beta siflutrin. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode single plant. Pelaksanaan penelitian meliputi persiapan lahan, pemasangan mulsa, penanaman, pemeliharaan, panen, dan pengamatan. Pengamatan dilakukan pada semua individu tanaman buncis pada masing-masing populasi terhadap karakter kualitatif (tipe pertumbuhan, warna daun, warna batang, warna standard bunga, dan warna polong) serta karakter kuantitatif (umur awal berbunga, umur awal panen, jumlah polong per tanaman, panjang polong, diameter polong, berat polong, dan berat polong per tanaman). Pendugaan nilai heritabilitas dilakukan dengan menggunakan perhitungan dengan ragam keturunan.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh karakter kualitatif yang diamati pada seluruh populasi F2 memiliki keragaman genetik sempit dengan nilai heritabilitas tinggi. Sebagian besar karakter kuantitatif yang diamati pada seluruh populasiF2 memiliki keragaman genetik luas, kecuali karakter panjang polong, diameter polong, dan berat polong. Nilai duga heritabilitas karakter kuantitatif yang diamati berbeda-beda. Umur awal berbunga memiliki nilai duga heritabilitas yang cenderung tinggi dan sedang, umur awal panen memiliki nilai duga heritabilitas tinggi pada semua populasi F2, panjang polong, diameter polong, dan berat polong memiliki nilai duga heritabilitas yang cenderung sedang dan rendah, sedangkan jumlah polong per tanamandan berat polong per tanaman memiliki nilai duga heritabilitas yang berbeda-beda pada masing-masing populasi F2.

 

Seleksi terhadap karakter umur awal panen akan efektif pada seluruh populasi F2. Karakter yang dapat dipertimbangkan untuk diseleksi pada populasi F2 Cherokee Sun × Gogo Kuning adalah umur awal panen, jumlah polong per tanaman, dan berat polong per tanaman. Karakter yang dapat dipertimbangkan untuk diseleksi pada populasi F2Cherokee Sun × Mantili dan Purple Queen × Gilik Ijo hanya umur awal panen.Karakter yang dapat dipertimbangkan untuk diseleksi pada populasi F2Cherokee Sun × Gilik Ijodan Purple Queen × Mantiliadalah umur awal berbunga, umur awal panen, jumlah polong per tanaman, dan berat polong per tanaman. Sedangkan karakter yang dapat dipertimbangkan untuk diseleksi populasi F2 Purple Queen × Gogo Kuning adalah umur awal berbunga dan umur awal panen.


 

 

SUMMARY

 

 

 

HAJROON JAMEELA. 0910480077. Genetic Variability and Heritability of Yield Component Characters in Six F2 Populations of Common Bean Derived from a Cross Between Introduced Varieties and Local Varieties. Supervised by Dr. Ir. Andy Soegianto, CESA and Ir. Arifin Noor Sugiharto, M.Sc., Ph.D.

 

Common bean is widely used by many people because it contains substances that human body needs and can cure various diseases.However, according to data from Direktorat Jendral Hortikultura (2012),national productivity of common bean decreased 0,52%, from 10,44 ton ha-1 to 10,38 ton ha-1. In 2012, a cross between introduced varieties and local varietiesof common bean was conducted in order to get the common bean with high productivity withpurple and yellow pods. An individual F1 plant from the cross was then self crossed to produced the F2 generation.In the F2 generation, plant will be segregating. Segregation causes variability in the F2 generation. High genetic variability and heritability level will affect the success of the selection. In this research, estimation of genetic variability and heritability value was conducted in six F2 populations of common bean derived from a cross between introduced varieties and local varieties. The genetic variability and heritability valuewould be used as a guideline in conducting selection to increase productivity of common bean.

 

This research was conducted in Dusun Junwatu, Junrejo Village, Junrejo District, Batu, located at an altitude of ± 650 m above sea level which the minimum temperature is 18-24°C, maximum temperature is 28-32°C, and relative humidity is 75-98%, from April to July 2013. The tools used in this research are hoe, black and silver plastic mulch, mulch hole puncher, measuring tape, plant hole maker, wooden stakes, sprayer, labels, stationery, plastic bags, ruler, caliper, analytical scale, and camera. The materials used are six F2 populations of common bean derived from a cross between introduced varieties and local varieties, as well as five parental populations. The F2 populations are: Cherokee Sun × Gogo Kuning, Cherokee Sun × Mantili, Cherokee Sun × Gilik Ijo, Purple Queen × Gogo Kuning, Purple Queen × Mantili, and Purple Queen × Gilik Ijo. This research also used insecticide/ nematicide with karbofuran 3%, husk ash, NPK 16-16-16, and insecticide with Beta siflutrin. The research was conducted using a single plant method. Implementation of the research includes land preparation, installation of mulch, planting, maintenance, harvesting, and observation. Observation were made on all individual plant in each population, include the qualitative characters (growth type, leaf color, stem color, standard flower color, and pod color) and the quantitative characters (flowering time, first harvesting time, pod number per plant, pod length, pod diameter, pod weight, and pod weight per plant). Estimation of heritability was done using calculation of offspring variance.

 

The result showed that all of qualitative characters had low genetic variability with high heritability value. Most of quantitative characters had high genetic variability value in all F2 populations except pod lenght, pod diameter, and pod weight. Heritability value of quantitative characters werevarious. Flowering time tended to havehigh and moderate heritability value in all F2populations, first harvesting time had high heritability value in all F2populations, and pod lenght, pod diameter, and pod weight tended to have moderate and low heritability value in all F2populations. While the pod number per plant and pod weight per plant had various heritability value in each F2populations.

Selection offirst harvesting timewould be effective on the whole F2populations. Characters that could be selected in  Cherokee Sun × Gogo Kuning population arefirst harvesting time, pod number per plant, and pod weight per plant. The only character that could be selected in Cherokee Sun × Mantili and Purple Queen × Gilik Ijo population isfirst harvesting time. Characters that could be selected in Cherokee Sun × Gilik Ijo and Purple Queen × Mantili population are flowering time, first harvesting time, pod number per plant, and pod weight per plant.While the characters that could be selected in Purple Queen × Gogo Kuning population are flowering time and first harvesting time.

Comments are closed.